Senin, 26 Desember 2011

Mind Map Sebuah Alternatif Metode Pembelajaran.

Mind Mapping atau Peta Pikiran adalah metode mempelajari konsep yang ditemukan oleh Tony Buzan. Konsep ini didasarkan pada cara kerja otak kita menyimpan informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak menyimpan informasi dalam kotak-kotak sel saraf yang terjejer rapi melainkan dikumpulkan pada sel-sel saraf yang berbercabang-cabang yang apabila dilihat sekilas akan tampak seperti cabang-cabang pohon.

Dari fakta tersebut maka disimpulkan apabila kita juga menyimpan informasi seperti cara kerja otak, maka akan semakin baik informasi tersimpan dalam otak dan hasil akhirnya tentu saja proses belajar kita akan semakin mudah.
Dari penjelasan diatas, bisa disimpulkan cara kerja Peta Pikiran adalah menuliskan tema utama sebagai titik sentral / tengah dan memikirkan cabang-cabang atau tema-tema turunan yang keluar dari titik tengah tersebut dan mencari hubungan antara tema turunan. Itu berarti setiap kali kita mempelajari sesuatu hal maka fokus kita diarahkan pada apakah tema utamanya, poin-poin penting dari tema yang utama yang sedang kita pelajari, pengembangan dari setiap poin penting tersebut dan mencari hubungan antara setiap poin. Dengan cara ini maka kita bisa mendapatkan gambaran hal-hal apa saja yang telah kita ketahui dan area mana saja yang masih belum dikuasai dengan baik.
Beberapa hal penting dalam membuat peta pikiran ada dibawah ini, yaitu:
1. Pastikan tema utama terletak ditengah-tengah
Contohnya, apabila kita sedang mempelajari pelajaran sejarah kemerdekaan Indonesia, maka tema utamanya adalah Sejarah Indonesia.
2. Dari tema utama, akan muncul tema-tema turunan yang masih berkaitan dengan tema utama
Dari tema utama “Sejarah Indonesia”, maka tema-tema turunan dapat terdiri dari : Periode,Wilayah, Bentuk Perjuangan ,dll.
3. Cari hubungan antara setiap tema dan tandai dengan garis, warna atau simbol
Dari setiap tema turunan tertama akan muncul lagi tema turunan kedua, ketiga dan seterusnya. Maka langkah berikutnya adalah mencari hubungan yang ada antara setiap tema turunan. Gunakan garis, warna, panah atau cabang dan bentuk-bentuk simbol lain untuk menggambarkan hubungan diantara tema-tema turunan tersebut..
Pola-pola hubungan ini akan membantu kita memahami topik yang sedang kita baca. Selain itu Peta Pikiran yang telah dimodifikasi dengan simbol dan lambang yang sesuai dengan selera kita, akan jauh lebih bermakna dan menarik dibandingkan Peta Pikiran yang “miskin warna”.
4. Gunakan huruf besar
Huruf besar akan mendorong kita untuk hanya menuliskan poin-poin penting saja di Peta Pikiran. Selain itu, membaca suatu kalimat dalam gambar akan jauh lebih mudah apabila dalam huruf besar dibandingkan huruf kecil. Penggunaan huruf kecil bisa diterapkan pada poin-poin yang sifatnya menjelaskan poin kunci.
5. Buat peta pikiran di kertas polos dan hilangkan proses edit
Ide dari Peta Pikiran adalah agar kita berpikir kreatif. Karenanya gunakan kertas polos dan jangan mudah tergoda untuk memodifikasi Peta Pikiran pada tahap-tahap awal. Karena apabila kita terlalu dini melakukan modifikasi pada Peta Pikiran, maka sering kali fokus kita akan berubah sehingga menghambat penyerapan pemahaman tema yang sedang kita pelajari.
6. Sisakan ruangan untuk penambahan tema
Peta Pikiran yang bermanfaat biasanya adalah yang telah dilakukan penambahan tema dan modifikasi berulang kali selama beberapa waktu. Setelah menggambar Peta Pikiran versi pertama, biasanya kita akan menambahkan informasi, menulis pertanyaan atau menandai poin-poin penting. Karenanya selalu sisakan ruang di kertas Peta Pikiran untuk penambahan tema.
 Bagi Bapak / Ibu yang menguasai IT, kami membagi software  program Ming Map. (donwload link dibawah)
EDraw Mind Map

Rabu, 19 Januari 2011

ILMU FIQIH DALAM KAJIAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Teman-teman PPs STAI Qomaruddin yang pingin makalah Filsafat Pendidikan Islam, bisa coba download.
Sekalian beri komentar barangkali untuk penyempurnaan sebelum dipresentasikan. 

Download Di Sini !

 Informasi pendidikan di :
Madrasah Goooo !  

Rabu, 10 Maret 2010

Download lagu

Masukan Nama Penyanyi - Judul Lagu

Mesin Cari Free Download Mp3 Gratis

Selasa, 02 Maret 2010

WISATA SEGORO INDAH DALEGAN ANTARA HARAPAN DAN KEKHAWATIRAN

Desa Dalegan merupakan salah satu dari sekian desa-desa yang berada di kecamatan Panceng kabupaten Gresik. Desa ini berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Mata pencaharian penduduknya pada mulanya adalah pelaut tradisional namun kemudian dengan perkembangan zaman masyarakat mulai melirik ke sektor TKI di Malaysia. Beberapa warga yang pulang dari merantau tak jarang yang menunjukkan keberhasilannya di tanah Jiran, tak jika kemudian banyak warga yang memilih meninggalkan pekerjaan sebagai nelayan atau sebagian petani untuk mengikuti jejak saudara-saudara mereka di Malaysia. Wajah desa Dalegan kemudian berubah yang semua banyak rumah bambu kini beralih ke bangunan-bangunan megah layaknya di kota-kota besar. Keadaan ini ternyata tak berkesinambungan karena kebijakan pemerintah malaysia sepertinya sedikit mempersulit gerak TKI terutama yang tidak punya IC. Seriring dengan itu perkembangan lingkungan Desa Dalegan menunjukkan ke arah pemanfaatan sumber daya alami yang ada di desa. Pantai Dalegan yang semula nampak biasa-biasa saja bahkan terkesan kumuh kini berubah menjadi potensi wisata yang layak dikembangkan. Akankah aset asli desa ini benar-benar membawa keberuntungan bagi masyarakat desa Dalegan atau justru sebaliknya  ada sisi negatif ???? Yok urun rembuk masalah ini demi masa depan generasi kita nanti.

Kamis, 24 Desember 2009

1 Muharrom vs 1 Januari


1 MUHARROM vs 1 JANUARI

Tahun baru 1 Muharrom telah berlalu, kini masyarakat Indonesia bahkan dunia akan kembali menyambut tahun baru. 1 Januari 2010 tinggal beberapa hari lagi akan segera tiba. Berbagai persiapan perayaan tahun baru tentu sudah dipersiapkan, mulai dari terompet sampai panggung hiburan semalam suntuk.
Sama-sama tahun baru tetapi ada yang berbeda antara 1 Muharrom dengan 1 Januari. Tahun baru 1 Muharrom didasarkan pada perhitungan tahun Hijriyah sedangkan 1 Januari perhitungannya didasarkan pada tahun Masehi. Perayaan menyambut tahun baru ini pun berbeda. Tahun baru Hijriyah karena identik dengan tahun Islam maka perayaannya dikemas dalam nuansa Islami, seperti do’a bersama, pengajian, dan bakti sosial kalaupun ada pawai sebutannya juga pawai ta’aruf. Hal ini sangat kontradiktif dengan tahun baru Masehi yang penuh dengan hingar bingarnya pesta, berbagai pertunjukkan, pentas musik dan kembang api.
Alhasil tahun baru yang berbeda itu kadang perayaannya dilakukan oleh masyarakat kita yang sebenarnya sama-sama warga negara Indonesia dan beragama Islam. Bangsa Indonesia yang mayoritas masyarakat muslim, tentu tidak asing dengan 1 Muharrom akan tetapi mengapa ada perlakuan yang berbeda dengan 1 Januari. Kegiatan 1 Muharrom tak lebih dari kumpulan sekelompok jamaah di masjid-masjid atau musholla untuk sekedar baca doa awal atau akhir tahun. Itupun yang datang kebanyakan dari kalangan usia lanjut. Pertanyaannya kemudian, kemana sebenarnya generasi muda Islam ini ?
Sebagai pemeluk Islam kita patut prihatin, generasi muslim kita sekarang lebih mengenal tahun baru Masehi dibanding tahun baru Islam. Mereka banyak memadati perayaan-perayaan tahun baru Masehi bahkan ikut begadang semalam suntuk demi peringatan detik-detik pergantian tahun baru. Apa yang sebenarnya mereka cari, sebab tidak jarang mereka harus mengeluarkan biaya yang lebih mahal dibanding peringatan 1 Muharrom. Kalau dipikir dengan jernih sebenarnya ada yang janggal dari kejadian ini.
Pertama, mungkin kebanyakan mereka lupa atau tidak tahu aka adanya tahun baru Islam. Atau sedemikian parahkah pemahaman generasi Islam terhadap ajaran Islam sehingga hal yang demikian terlewatkan.
Kedua, Kemungkinan peringatan tahun baru Islam yang barangkali kurang mengena di hati masyarakat kita sekarang. Hal demikian menjadikan mereka berpaling ke perayaan yang lebih meriah dan menarik.
Ketiga, karena mungkin sudah zamannya masyarakat lebih memilih hal-hal yang bersifat glamour dan kesenangan sesaat ketimbang mengikuti ritual-ritual keagamaan yang kadang sulit diterima oleh akal masyarakat modern.
Dari ketiga asumsi di atas, untuk poin satu dan dua barangkali masih bisa dicarikan solusi yang tepat dan menjadi pekerjaan rumah bagi para tokoh dan pemuka agama Islam di negeri ini. Akan tetapi untuk poin tiga wallahu a’lam

Kamis, 26 November 2009

Korban atau dikorbankan

Hari Raya Idul Adha 2009 bagi bangsa Indonesia merupakan sebuah momentum koreksi diri. Di tengah kesulitan bangsa yang tengah kita hadapi saat ini tentu sangat dibutuhkan jiwa-jiwa pengorbanan yang tinggi. Jiwa pengorbanan yang ditunjukkan oleh Ismail AS. saat itu adalah sebuah referensi bagi semua umat di segala zamannya. Pengorbanan tidak terbatas pada harta atau benda bahkan jiwa raga pun direlakan.
Bentuk pengorbanan apa yang relevan untuk saat-saat sekarang ini ? Indonesia yang mengalami kesulitan di berbagai dimensi kehidupan sangat membutuhkan pemimpin yang mempunyai jiwa-jiwa pengorbanan. Mendahulukan dan mengedepankan suara rakyat serta kepentingan-kepentingan yang berpihak pada rakyat dari pada menuruti segelintir orang yang dianggapnya memberi kepuasaan materi sesaat.
Kita mendambakan pengorbanan para pemimpin dan bukan melihat rakyat yang menjadi korban. Mengapa harus para pedagang kaki lima yang menjadi korban para petinggi daerah dengan dalih penataan kota ? mengapa harus para nasabah yang dengan telaten mengumpulkan uang tabungan yang menjadi korban para pemilik modal besar. Kapan kita akan melihat para pejabat yang rela menahan lapar terlebih dahulu sebelum rakyatnya kenyang. Masihkah kira mengharap ada pemimpin yang rela tidak memiliki mobil baru demi membangun program yang langsung menyentuh rakyat.
Dari mana jiwa dan semangat rela berkorban itu kita dapatkan ? Bisakah kita mempelajarinya layaknya sebuah disiplin ilmu ? Ada beberapa hal yang perlu dipahami tentang adanya jiwa dan semangat rela berkorban sebagaimana yang ditunjukkan NabiAllah Isma’il as. :
1. Jiwa dan karakter rela berkorban dibentuk dari sebuah usaha orang tua atau para pendahulu mereka. Bagaimana Nabi Ibrahim tak henti-hentinya berdoa demi mendapatkan anak sholeh “Robbii hablii minash sholihiin”. Perilaku kedermawanan dan pengorbanan Nabi Ibrahim tak diragukan lagi. Beliau pernah berkorban untuk memberi makan seluruh makhluk Allah baik yang di daratan atau di lautan. Sehingga tak heran bila “buah” dari semua itu terbentuklah jiwa Ismail as. yang menunjukkan kepatuhan dan semangat pengorbanan yang tinggi.
2. Jiwa dan karakter rela berkorban tidak bisa dipelajari sebagaimana sebuah disiplin ilmu. Bagaimana Ismail yang saat itu masih kecil bisa bersekolah dan mempelajarinya serta mempraktikkannya ? Jawabnya tak ada satu sekolah atau profesor pun yang mampu mencetak pribadi rela berkorban seperti itu. Semuanya berpulang pada nurani yang bersih yang senantiasa mendapat “nur” Illahi sehingga dalam perjalanannya selalu peka terhadap kondisi lingkungan sekitar.
Pada akhirnya penulis berharap pemimpin-pemimpin kita ke depan selalu mendapat bimbingan Illahi sehingga senantiasa mempunyai jiwa dan semangat pengorbanan yang tinggi.