Blogger: MOHAMAD KHOIRUL Lingkungan Satria Desa Dalegan Panceng Gresik. Area WISID (Wisata Segoro Indah Dalegan)
Rabu, 26 Februari 2014
SEHAT ALAMI DENGAN PRODUK e-MIRACLE
JAGALAH KESEHATAN ANDA, AGAR TENANG DALAM BERIBADAH, MENDEKATKAN DIRI PADA ALLAH SWT.
Untuk mengetahui khasiat dari produk di atas silakan "klik" link berikut:
SEHAT BERSAMA USTADZ YUSUF MANSUR
Untuk mengetahui khasiat dari produk di atas silakan "klik" link berikut:
SEHAT BERSAMA USTADZ YUSUF MANSUR
Jumat, 14 Februari 2014
Ayo gabung bersama Ust. Yusuf Mansur. Nikmati sehat jasmani dan rohani...... klik link dibawah ini !
http://www.joinsyariah.com
http://www.joinsyariah.com
Sabtu, 05 Januari 2013
TUGAS MEDIA PEMBELAJARAN PKG 2012
Bagi sahabat-sahabat yang ingin mengetahui tagihan produk media pembelajaran bisa download disini
Minggu, 16 Desember 2012
Diklat PKG dan Harapan Peningkatan Kualitas GPAIS
Pendidikan agama, termasuk Agama Islam di sekolah kadang tak tersentuh oleh pembinaan-pembinaan secara struktural. Hal ini terjadi karena di tingkat Unit Pelaksana Teknis Pendidikan setingkat kecamatan tidak ada pengawas Pendidikan Agama Islam. Sehingga ketika ada pengawas TK/SD ke sekolah seakan-akan guru agama tidak termotivasi karena keberadaan pengawas bukan secara khusus menangani pendidian agama di sekolah.
Pejabat pembina Pendidikan Agama Islam secara khusus sebenarnya di tingkat kecamatan sudah ada yaitu PPAI di bawah kementerian agama kabupaten. Namun kenyataan berbicara lain sebab keberadaan PPAI kadang belum bisa menjangkau ke sekolah-sekolah sebab beban kepengawasan yang lebih utama adalah ada di wilayah madrasah, hal ini menyebabkan pembinaan pendidikan Agama Islam di sekolah lagi-lagi masih belum intensif.
Permasalahan di diperpanjang lagi dengan minimnya pendidikan dan latihan secara khusus bagi GPAIS yang diselenggarakan oleh dinas pendidikan atau mapenda. Hal ini yang kemudian membuat sebagian masyarakat berasumsi bahwa pendidikan agama di sekolah masih terkesan dimarginalkan.
Terobosan dirjen PAIS melalui LPTK atau perguruan tinggi dengan menyelenggarakan Diklat PKG pada dua tahun terakhir agaknya cukup mengobati "ketertinggalan" guru PAI dalam mengikuti perkembangan dunia pendidikan. Mereka sudah mulai terbuka wawasan dan cakrawala pandang terhadap dinamika pembelajaran khususnya PAI. Diklat PKG yang materinya terdapat pengembangan media berbasis ICT cukup menggugah guru-guru PAI untuk lebih memacu diri mengikuti perkembangan dunia teknologi untuk pembelajaran.
Harapan kami dan insyaAllah juga menjadi harapan seluruh guru PAI di sekolah kegiatan Diklat PKG ini terus berjalan setiap tahunya dan dapat menjangkau seluruh GPAIS secara merata. Amiin
DILKAT PKG YESSSSS..... !!!
Sabtu, 15 Desember 2012
Nasib GTT harus kemana ?
Undang-undang guru dan dosen tahun 2005 memberi angin segar bagi kesejahteraan para pahlawan tanpa tanda jasa di negeri ini. Namun demikian masih ada sebagian dari mereka yang belum bisa menikmatinya padahal secara de facto mereka sebenarnya layak untuk menerimanya.
GTT adalah salah satu dari status guru yang masih belum bisa menikmati kebijakan pemberian tunjangan profesi ini.
Pada akhir tahun 2011 ada kenyataan menggembirakan bagi sebagian dari GTT di kabupaten Gresik, melalui LPTK IAIN Sunan Ampel mereka bisa mengikuti PLPG. Namun kegembiraan itu tidak berlanjut setelah mereka dinyatakan lulus dan menrima NRG, pasalnya mereka tidak diperkenankan mengikuti pemberkasan pencairan. Pertanyaanya kemudian, kalau memang keberadaan mereka tidak dianggap mengapa masih tetap eksis hinga sekarang, dan jika jelas-jelas mereka masih dibutuhnya tenaga dan pikirannya sudah seharusnya mereka dipikirnya tentang kesejahteraanya bukan malah dipinggirkan dengan statusnya yang masih GTT. Semoga para pemangku kebijakan melihat kenyataan ini dengan jernih, amiiin.
Minggu, 18 Maret 2012
ROK MINI DI SENAYAN
Di senayan ada sedikit “geger”. Kali ini bukan soal uang pesangon kunker atau uang saku reses. Tetapi soal tata tertib pakaian wanita yang berada di gedung rakyat ini. Dalam tata tertib itu mengatur siapa saja yang berada di gedung dewan baik itu anggoat dewan sendiri atau orang-orang yang berkepentingan dengan anggota dewan harus memakai rok panjang untuk perempuan.
Pro kontra pun bermunculan, baik dari kalangan internal dewan maupun masyarakat. Mereka menyayangkan mengapa DPR mengurusi hal-hal yang dianggapnya kurang urgen. Unjuk rasa LSM perempuan di depan istana juga menyuarakan urgensi larangan tersebut. Di antara isi tulisan yang di bawa pengunjuk rasa adalah “Bukan salah rok mini tapi otakmu yang mini”. Dari kalangan yang pro terhadap tata tertib ini mengacu pada adat ketimuran tentang mengenakan pakaian di tempat-tempat resmi termasuk gedung dewan yang terhormat.
Terlepas dari alasan mereka yang pro dan kontra tersebut, kami mengajak kepada kaum hawa yang gemar mengenakan rok mini. Sebenarnya mengenakan rok mini tidak salah dan tidak ada larangan agama asal tahu tempat dan apa motivasinya.
Mengenakan rok mini jika di dalam rumah dan hanya dilihat oleh anggota keluarga (suami dan anak-anak) maka tidak ada salah dan dosa tetapi jika dipakai di luar rumah tentu itu membawa implikasi hukum bagi pemakainya dari segi agama karena aurat perempuan adalah sekujur tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
Motivasi para kaum hawa memakai rok mini juga perlu dikaji peruntukannya. Kalau alasan gerah dan cuaca panas sehinga memakai pakaian yang serba mini tentu sudah terjawab sebab sekarang di semua ruangan sudah tersedia AC dan bahkan di mobil pun serba “cool”. Kalau alasan modis sekarang banyak designer pakaian yang masih mengutamakan kesopanan dan menutup aurat. Kalau alasan pakai rok mini itu adalah hak setiap orang, maka anak SD pun sudah diajari bahwa penggunaan hak seseorang tidak boleh mengganggu hak orang lain. Kalau diteruskan pertanyaanya hak orang lain yang mana yang dilanggar oleh si pemakai rok mini. Jawabnya adalah bahwa dosa itu ada yang bisa “menularkan” dosa ke orang lain. Contohnya dosa orang yang pakai rok mini akan membawa efek dosa pada orang yang melihatnya. Dan tidak mungkin satu sama lain di antara kita ketika berinteraksi tanpa saling berpandangan.
Semoga menjadi renungan kita semua.amiin. Sabtu, 14 Januari 2012
Budaya Cheating: Penyakit Dalam Dunia Pendidikan
Cheating merupakan bahaya laten dalam dunia pendidikan. Meskipun demikian tidak banyak orang yang peduli terhadap masalah ini, bahkan menyepelekannya. Padahal cheating dapat menjadi tumor ganas yang akan menghabiskan moralitas generasi muda Indonesia. Cheating merupakan soft problem yang mengakar pada civitas akademika yang luput dari perhatian praktisi pendidikan kita. Budaya cheating akan melahirkan generasi-generasi muda yang tidak tahan uji, generasi-generasi prematur yang menginginkan segalanya dengan instan tanpa harus merasakan arti sebuah perjuangan. Penyakit cheating harus segera diobati agar dampaknya tidak bertambah besar lagi. Teknologi Pendidikan adalah suatu disiplin ilmu yang bertugas mengkaji masalah-masalah pendidikan, menganalisis, dan memecahkannya. Teknologi Pendidikan sangat berperan penting dalam menemukan solusi cerdas guna menyelamatkan pendidikan dari budaya cheating. Apa itu Cheating ? Abdullah Alhadza dalam Bower (1964) mendefinisikan cheating sebagai “manifestation of using illigitimate means to achieve a legitimate end (achieve academic success or avoid academic failure),” maksudnya cheating adalah perbuatan yang menggunakan cara-cara yang tidak sah untuk tujuan yang sah/terhormat yaitu mendapatkan keberhasilan akademis atau menghindari kegagalan akademis. Selanjutnya Abdullah Alhadza dalam Deighton (1971) menyatakan “Cheating is attempt an individuas makes to attain success by unfair methods”. Maksudnya, cheating adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan dengan cara-cara yang tidak fair (tidak jujur). Dalam konteks pendidikan atau sekolah, beberapa perbuatan yang termasuk dalam kategori cheating antara lain adalah meniru pekerjaan teman, bertanya langsung pada teman ketika sedang mengerjakan tes/ujian, membawa catatan pada kertas, pada anggota badan atau pada pakaian masuk ke ruang ujian, menerima dropping jawaban dari pihak luar, mencari bocoran soal, arisan (saling tukar) mengerjakan tugas dengan teman, menyuruh atau meminta bantuan orang lain dalam menyelesaikan tugas ujian di kelas atau tugas penulisan paper dan take home test. Dalam perkembangan mutakhir cheating dapat ditemukan dalam bentuk perjokian seperti kasus yang sering terjadi dalam UAN, memberi lilin atau pelumas kepada lembaran jawaban komputer atau menebarkan atom magnit dengan maksud agar mesin scanner komputer dapat terkecoh ketika membaca lembar jawaban sehingga gagal mendeteksi jawaban yang salah atau menganggap semua jawaban benar, dan banyak lagi cara-cara yang sifatnya spekulatif maupun rasional. Dalam tingkatan yang lebih intelek, sering kita dengar plagiat karya ilmiah seperti dalam wujud membajak hasil penelitian orang lain, menyalin skripsi, tes, ataupun desertasi orang lain dan mengajukannya dalam ujian sebagai karyanya sendiri. Ternyata praktik cheating banyak macamnya, dimulai dari bentuk yang sederhana sampai kepada bentuk yang canggih. Dari sesuatu yang sangat prohibited sampai pada bentuk yang cenderung premissible. Teknik cheating tampaknya mengikuti pula perkembangan teknologi, artinya semakin canggih teknologi yang dilibatkan dalam pendidikan semakin canggih pula bentuk cheating yang bakal menyertainya. Bervariasi dan beragamnya bentuk perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai cheating maka sekilas dapat diduga bahwa hampir semua pelajar pernah melakukan cheating meskipun mungkin wujudnya sangat sederhana dan sudah dalam kategori permisseble atau dapat ditolerir. Meskipun demikian dapat dikatakan bahwa apapun bentuknya, dengan cara sederhana ataupun dengan cara yang canggih, dari sesuatu yang sangat tercela sampai kepada yang mungkin dapat ditolerir, cheating tetap dianggap oleh masyarakat umum sebagai perbuatan ketidakjujuran, perbuatan curang yang bertentangan dengan moral dan etika serta tercela untuk dilakukan oleh seseorang yang terpelajar. Berdasarkan uraian di atas maka yang dimaksud dengan cheating dalam tulisan ini adalah segala perbuatan atau trik-trik yang tidak jujur, perilaku tidak terpuji atau perbuatan curang yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai keberhasilan dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik terutama yang terkait dengan evaluasi/ujian hasil belajar. Dampak Negatif Cheating Telah dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya bahwa cheating merupakan budaya amoral yang dianggap wajar oleh pelaku-pelaku pendidikan. Sebagian besar dari kita bahkan pernah melakukannya. Dampak negatif cheating sesungguhnya sangat suit dilihat secara sepintas dalam waktu yang singkat. Cheating secara perlahan tapi pasti akan menggerogoti kemandirian peserta didik. Pembiasaan memperolehs sesuatu dengan mudah dan cepat tanpa harus bersusah payah akan menjadi kebiasaan yang ertanam dalam diri peserta didik. Lambat laun ini akan menjadi budaya yang berakar dalam kehidupannya dan sangat susah untuk dilepaskan. Dampak negatif cheating selain pada diri pribadi cheater (pencontek) juga dapat mengganggu stabilitas dunia pendidikan. Hasil-hasil evalusi menjadi tidak dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya untuk selanjutnya keputusan yang akan diambil pastilah tidak akan tepat. Dalam tinjauan kurikulum, tentulah budaya cheating ini akan mengaburkan SKL. Dunia pendidikan akan menjadi semu dan hanya formalitas belaka, begitu besarnya dampak negatif cheating ini. Upaya Penanggulangan Cheating Abdullah Alhadza (2001) menjelaskan bahwa ada empat faktor yang menjadi penyebab cheating yaitu: (1) Faktor individual atau pribadi dari cheater, 2) faktor lingkungan atau pengaruh kelompok, (3) faktor sistem evaluasi dan (4) faktor guru/dosen atau penilai. Berkenaan dengan asas moral di atas, dapat ditegaskan bahwa yang terpenting dalam pendidikan moral adalah bagaimana menciptakan faktor kondisional yang dapat mengundang dan memfasilitasi seseorang untuk selalu berbuat secara moral dalam ujian (tidak melakukan cheating) maka caranya adalah mengkondisikan keempat faktor di atas ke arah yang mendukung, yaitu sebagai berikut:
- Faktor pribadi dari cheater
- Bangkitkan rasa percaya diri
- Arahkan self consept mereka ke arah yang lebih proporsional
- Biasakan mereka berpikir lebih realistis dan tidak ambisius
- Tumbuhkan kesadaran hati nurani (Das Uber Ich) yang mampu mengontrol naluri beserta desakan logis rasionalitas jangka pendek yang bermuara kepada perilakunya.
- Faktor Lingkungan dan Kelompok.
- Ciptakan kesadaran disiplin dan kode etik kelompok yang sarat dengan pertimbangan moral.
- Faktor Sistem Evaluasi
- Buat instrumen evaluasi yang valid dan reliable (yang tepat dan tetap)
- Terapkan cara pemberian skor yang benar-benar objektif
- Lakukan pengawasan yang ketat
- Bentuk soal disesuaikan dengan perkembangan kematangan peserta didik dan dengan mempertimbangkan prinsip paedagogy serta prinsip andragogy.
- Faktor Guru/ Dosen
- Berlaku objektif dan terbuka dalam pemberian nilai.
- Bersikap rasional dan tidak melakukan cheating dalam memberikan tugas ujian/tes.
- Tunjukkan keteladanan dalam perilaku moral.
- Berikan umpan balik atas setiap penugasan.
Jumat, 06 Januari 2012
Kisi-kisi Ujian Nasional 2011-2012
Ujian Akhir Sekolah/Madrasah dan Ujian Nasional sudah diambang pintu, terutama bagi siswa-siswi tingkat SMA/MA/SMK yang biasanya pelaksanaannya lebih awal. Terlepas dari masih adanya pro- kontra tentang pelaksanaan UN, yang jelas pemerintah masih mempertahankan kebiajakan ini. Lembaga hanya bisa merespon dengan berbagai bentuk baik yang bernuansa positif ataupun yang bernuansa negatif.
Begitu juga dengan persiapan di pihak siswa dan orang tua yang sudah mulai melakukan berbagai upaya bagaimana bisanya lulus dalam UN. Untuk itu kami berbagi dalam blog ini kisi-kisi UN untuk tingkat SD/MI sampai SMA/MA/SMK semoga bermanfaat.
Kisi-kisi UN 2011-2012
Permen-No-59-tahun-2011-ttg-UN.
Begitu juga dengan persiapan di pihak siswa dan orang tua yang sudah mulai melakukan berbagai upaya bagaimana bisanya lulus dalam UN. Untuk itu kami berbagi dalam blog ini kisi-kisi UN untuk tingkat SD/MI sampai SMA/MA/SMK semoga bermanfaat.
Kisi-kisi UN 2011-2012
Permen-No-59-tahun-2011-ttg-UN.
Senin, 26 Desember 2011
Mind Map Sebuah Alternatif Metode Pembelajaran.
Mind Mapping atau Peta Pikiran adalah metode mempelajari konsep yang ditemukan oleh Tony Buzan. Konsep ini didasarkan pada cara kerja otak kita menyimpan informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak kita tidak menyimpan informasi dalam kotak-kotak sel saraf yang terjejer rapi melainkan dikumpulkan pada sel-sel saraf yang berbercabang-cabang yang apabila dilihat sekilas akan tampak seperti cabang-cabang pohon.
Dari fakta tersebut maka disimpulkan apabila kita juga menyimpan informasi seperti cara kerja otak, maka akan semakin baik informasi tersimpan dalam otak dan hasil akhirnya tentu saja proses belajar kita akan semakin mudah.
Dari penjelasan diatas, bisa disimpulkan cara kerja Peta Pikiran adalah menuliskan tema utama sebagai titik sentral / tengah dan memikirkan cabang-cabang atau tema-tema turunan yang keluar dari titik tengah tersebut dan mencari hubungan antara tema turunan. Itu berarti setiap kali kita mempelajari sesuatu hal maka fokus kita diarahkan pada apakah tema utamanya, poin-poin penting dari tema yang utama yang sedang kita pelajari, pengembangan dari setiap poin penting tersebut dan mencari hubungan antara setiap poin. Dengan cara ini maka kita bisa mendapatkan gambaran hal-hal apa saja yang telah kita ketahui dan area mana saja yang masih belum dikuasai dengan baik.
Beberapa hal penting dalam membuat peta pikiran ada dibawah ini, yaitu:
1. Pastikan tema utama terletak ditengah-tengah
Contohnya, apabila kita sedang mempelajari pelajaran sejarah kemerdekaan Indonesia, maka tema utamanya adalah Sejarah Indonesia.
2. Dari tema utama, akan muncul tema-tema turunan yang masih berkaitan dengan tema utama
Dari tema utama “Sejarah Indonesia”, maka tema-tema turunan dapat terdiri dari : Periode,Wilayah, Bentuk Perjuangan ,dll.
3. Cari hubungan antara setiap tema dan tandai dengan garis, warna atau simbol
Dari setiap tema turunan tertama akan muncul lagi tema turunan kedua, ketiga dan seterusnya. Maka langkah berikutnya adalah mencari hubungan yang ada antara setiap tema turunan. Gunakan garis, warna, panah atau cabang dan bentuk-bentuk simbol lain untuk menggambarkan hubungan diantara tema-tema turunan tersebut..
Pola-pola hubungan ini akan membantu kita memahami topik yang sedang kita baca. Selain itu Peta Pikiran yang telah dimodifikasi dengan simbol dan lambang yang sesuai dengan selera kita, akan jauh lebih bermakna dan menarik dibandingkan Peta Pikiran yang “miskin warna”.
4. Gunakan huruf besar
Huruf besar akan mendorong kita untuk hanya menuliskan poin-poin penting saja di Peta Pikiran. Selain itu, membaca suatu kalimat dalam gambar akan jauh lebih mudah apabila dalam huruf besar dibandingkan huruf kecil. Penggunaan huruf kecil bisa diterapkan pada poin-poin yang sifatnya menjelaskan poin kunci.
5. Buat peta pikiran di kertas polos dan hilangkan proses edit
Ide dari Peta Pikiran adalah agar kita berpikir kreatif. Karenanya gunakan kertas polos dan jangan mudah tergoda untuk memodifikasi Peta Pikiran pada tahap-tahap awal. Karena apabila kita terlalu dini melakukan modifikasi pada Peta Pikiran, maka sering kali fokus kita akan berubah sehingga menghambat penyerapan pemahaman tema yang sedang kita pelajari.
6. Sisakan ruangan untuk penambahan tema
Peta Pikiran yang bermanfaat biasanya adalah yang telah dilakukan penambahan tema dan modifikasi berulang kali selama beberapa waktu. Setelah menggambar Peta Pikiran versi pertama, biasanya kita akan menambahkan informasi, menulis pertanyaan atau menandai poin-poin penting. Karenanya selalu sisakan ruang di kertas Peta Pikiran untuk penambahan tema.
Bagi Bapak / Ibu yang menguasai IT, kami membagi software program Ming Map. (donwload link dibawah)
EDraw Mind Map
Dari fakta tersebut maka disimpulkan apabila kita juga menyimpan informasi seperti cara kerja otak, maka akan semakin baik informasi tersimpan dalam otak dan hasil akhirnya tentu saja proses belajar kita akan semakin mudah.
Dari penjelasan diatas, bisa disimpulkan cara kerja Peta Pikiran adalah menuliskan tema utama sebagai titik sentral / tengah dan memikirkan cabang-cabang atau tema-tema turunan yang keluar dari titik tengah tersebut dan mencari hubungan antara tema turunan. Itu berarti setiap kali kita mempelajari sesuatu hal maka fokus kita diarahkan pada apakah tema utamanya, poin-poin penting dari tema yang utama yang sedang kita pelajari, pengembangan dari setiap poin penting tersebut dan mencari hubungan antara setiap poin. Dengan cara ini maka kita bisa mendapatkan gambaran hal-hal apa saja yang telah kita ketahui dan area mana saja yang masih belum dikuasai dengan baik.
Beberapa hal penting dalam membuat peta pikiran ada dibawah ini, yaitu:
1. Pastikan tema utama terletak ditengah-tengah
Contohnya, apabila kita sedang mempelajari pelajaran sejarah kemerdekaan Indonesia, maka tema utamanya adalah Sejarah Indonesia.
2. Dari tema utama, akan muncul tema-tema turunan yang masih berkaitan dengan tema utama
Dari tema utama “Sejarah Indonesia”, maka tema-tema turunan dapat terdiri dari : Periode,Wilayah, Bentuk Perjuangan ,dll.
3. Cari hubungan antara setiap tema dan tandai dengan garis, warna atau simbol
Dari setiap tema turunan tertama akan muncul lagi tema turunan kedua, ketiga dan seterusnya. Maka langkah berikutnya adalah mencari hubungan yang ada antara setiap tema turunan. Gunakan garis, warna, panah atau cabang dan bentuk-bentuk simbol lain untuk menggambarkan hubungan diantara tema-tema turunan tersebut..
Pola-pola hubungan ini akan membantu kita memahami topik yang sedang kita baca. Selain itu Peta Pikiran yang telah dimodifikasi dengan simbol dan lambang yang sesuai dengan selera kita, akan jauh lebih bermakna dan menarik dibandingkan Peta Pikiran yang “miskin warna”.
4. Gunakan huruf besar
Huruf besar akan mendorong kita untuk hanya menuliskan poin-poin penting saja di Peta Pikiran. Selain itu, membaca suatu kalimat dalam gambar akan jauh lebih mudah apabila dalam huruf besar dibandingkan huruf kecil. Penggunaan huruf kecil bisa diterapkan pada poin-poin yang sifatnya menjelaskan poin kunci.
5. Buat peta pikiran di kertas polos dan hilangkan proses edit
Ide dari Peta Pikiran adalah agar kita berpikir kreatif. Karenanya gunakan kertas polos dan jangan mudah tergoda untuk memodifikasi Peta Pikiran pada tahap-tahap awal. Karena apabila kita terlalu dini melakukan modifikasi pada Peta Pikiran, maka sering kali fokus kita akan berubah sehingga menghambat penyerapan pemahaman tema yang sedang kita pelajari.
6. Sisakan ruangan untuk penambahan tema
Peta Pikiran yang bermanfaat biasanya adalah yang telah dilakukan penambahan tema dan modifikasi berulang kali selama beberapa waktu. Setelah menggambar Peta Pikiran versi pertama, biasanya kita akan menambahkan informasi, menulis pertanyaan atau menandai poin-poin penting. Karenanya selalu sisakan ruang di kertas Peta Pikiran untuk penambahan tema.
Bagi Bapak / Ibu yang menguasai IT, kami membagi software program Ming Map. (donwload link dibawah)
EDraw Mind Map
Rabu, 19 Januari 2011
ILMU FIQIH DALAM KAJIAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
Teman-teman PPs STAI Qomaruddin yang pingin makalah Filsafat Pendidikan Islam, bisa coba download.
Sekalian beri komentar barangkali untuk penyempurnaan sebelum dipresentasikan.
Download Di Sini !
Sekalian beri komentar barangkali untuk penyempurnaan sebelum dipresentasikan.
Download Di Sini !
Rabu, 10 Maret 2010
Selasa, 02 Maret 2010
WISATA SEGORO INDAH DALEGAN ANTARA HARAPAN DAN KEKHAWATIRAN
Desa Dalegan merupakan salah satu dari sekian desa-desa yang berada di kecamatan Panceng kabupaten Gresik. Desa ini berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Mata pencaharian penduduknya pada mulanya adalah pelaut tradisional namun kemudian dengan perkembangan zaman masyarakat mulai melirik ke sektor TKI di Malaysia. Beberapa warga yang pulang dari merantau tak jarang yang menunjukkan keberhasilannya di tanah Jiran, tak jika kemudian banyak warga yang memilih meninggalkan pekerjaan sebagai nelayan atau sebagian petani untuk mengikuti jejak saudara-saudara mereka di Malaysia. Wajah desa Dalegan kemudian berubah yang semua banyak rumah bambu kini beralih ke bangunan-bangunan megah layaknya di kota-kota besar. Keadaan ini ternyata tak berkesinambungan karena kebijakan pemerintah malaysia sepertinya sedikit mempersulit gerak TKI terutama yang tidak punya IC. Seriring dengan itu perkembangan lingkungan Desa Dalegan menunjukkan ke arah pemanfaatan sumber daya alami yang ada di desa. Pantai Dalegan yang semula nampak biasa-biasa saja bahkan terkesan kumuh kini berubah menjadi potensi wisata yang layak dikembangkan. Akankah aset asli desa ini benar-benar membawa keberuntungan bagi masyarakat desa Dalegan atau justru sebaliknya ada sisi negatif ???? Yok urun rembuk masalah ini demi masa depan generasi kita nanti.
Kamis, 24 Desember 2009
1 Muharrom vs 1 Januari
1 MUHARROM vs 1 JANUARI
Tahun baru 1 Muharrom telah berlalu, kini masyarakat Indonesia bahkan dunia akan kembali menyambut tahun baru. 1 Januari 2010 tinggal beberapa hari lagi akan segera tiba. Berbagai persiapan perayaan tahun baru tentu sudah dipersiapkan, mulai dari terompet sampai panggung hiburan semalam suntuk.
Sama-sama tahun baru tetapi ada yang berbeda antara 1 Muharrom dengan 1 Januari. Tahun baru 1 Muharrom didasarkan pada perhitungan tahun Hijriyah sedangkan 1 Januari perhitungannya didasarkan pada tahun Masehi. Perayaan menyambut tahun baru ini pun berbeda. Tahun baru Hijriyah karena identik dengan tahun Islam maka perayaannya dikemas dalam nuansa Islami, seperti do’a bersama, pengajian, dan bakti sosial kalaupun ada pawai sebutannya juga pawai ta’aruf. Hal ini sangat kontradiktif dengan tahun baru Masehi yang penuh dengan hingar bingarnya pesta, berbagai pertunjukkan, pentas musik dan kembang api.
Alhasil tahun baru yang berbeda itu kadang perayaannya dilakukan oleh masyarakat kita yang sebenarnya sama-sama warga negara Indonesia dan beragama Islam. Bangsa Indonesia yang mayoritas masyarakat muslim, tentu tidak asing dengan 1 Muharrom akan tetapi mengapa ada perlakuan yang berbeda dengan 1 Januari. Kegiatan 1 Muharrom tak lebih dari kumpulan sekelompok jamaah di masjid-masjid atau musholla untuk sekedar baca doa awal atau akhir tahun. Itupun yang datang kebanyakan dari kalangan usia lanjut. Pertanyaannya kemudian, kemana sebenarnya generasi muda Islam ini ?
Sebagai pemeluk Islam kita patut prihatin, generasi muslim kita sekarang lebih mengenal tahun baru Masehi dibanding tahun baru Islam. Mereka banyak memadati perayaan-perayaan tahun baru Masehi bahkan ikut begadang semalam suntuk demi peringatan detik-detik pergantian tahun baru. Apa yang sebenarnya mereka cari, sebab tidak jarang mereka harus mengeluarkan biaya yang lebih mahal dibanding peringatan 1 Muharrom. Kalau dipikir dengan jernih sebenarnya ada yang janggal dari kejadian ini.
Pertama, mungkin kebanyakan mereka lupa atau tidak tahu aka adanya tahun baru Islam. Atau sedemikian parahkah pemahaman generasi Islam terhadap ajaran Islam sehingga hal yang demikian terlewatkan.
Kedua, Kemungkinan peringatan tahun baru Islam yang barangkali kurang mengena di hati masyarakat kita sekarang. Hal demikian menjadikan mereka berpaling ke perayaan yang lebih meriah dan menarik.
Ketiga, karena mungkin sudah zamannya masyarakat lebih memilih hal-hal yang bersifat glamour dan kesenangan sesaat ketimbang mengikuti ritual-ritual keagamaan yang kadang sulit diterima oleh akal masyarakat modern.
Dari ketiga asumsi di atas, untuk poin satu dan dua barangkali masih bisa dicarikan solusi yang tepat dan menjadi pekerjaan rumah bagi para tokoh dan pemuka agama Islam di negeri ini. Akan tetapi untuk poin tiga wallahu a’lam
Kamis, 26 November 2009
Korban atau dikorbankan
Hari Raya Idul Adha 2009 bagi bangsa Indonesia merupakan sebuah momentum koreksi diri. Di tengah kesulitan bangsa yang tengah kita hadapi saat ini tentu sangat dibutuhkan jiwa-jiwa pengorbanan yang tinggi. Jiwa pengorbanan yang ditunjukkan oleh Ismail AS. saat itu adalah sebuah referensi bagi semua umat di segala zamannya. Pengorbanan tidak terbatas pada harta atau benda bahkan jiwa raga pun direlakan.
Bentuk pengorbanan apa yang relevan untuk saat-saat sekarang ini ? Indonesia yang mengalami kesulitan di berbagai dimensi kehidupan sangat membutuhkan pemimpin yang mempunyai jiwa-jiwa pengorbanan. Mendahulukan dan mengedepankan suara rakyat serta kepentingan-kepentingan yang berpihak pada rakyat dari pada menuruti segelintir orang yang dianggapnya memberi kepuasaan materi sesaat.
Kita mendambakan pengorbanan para pemimpin dan bukan melihat rakyat yang menjadi korban. Mengapa harus para pedagang kaki lima yang menjadi korban para petinggi daerah dengan dalih penataan kota ? mengapa harus para nasabah yang dengan telaten mengumpulkan uang tabungan yang menjadi korban para pemilik modal besar. Kapan kita akan melihat para pejabat yang rela menahan lapar terlebih dahulu sebelum rakyatnya kenyang. Masihkah kira mengharap ada pemimpin yang rela tidak memiliki mobil baru demi membangun program yang langsung menyentuh rakyat.
Dari mana jiwa dan semangat rela berkorban itu kita dapatkan ? Bisakah kita mempelajarinya layaknya sebuah disiplin ilmu ? Ada beberapa hal yang perlu dipahami tentang adanya jiwa dan semangat rela berkorban sebagaimana yang ditunjukkan NabiAllah Isma’il as. :
1. Jiwa dan karakter rela berkorban dibentuk dari sebuah usaha orang tua atau para pendahulu mereka. Bagaimana Nabi Ibrahim tak henti-hentinya berdoa demi mendapatkan anak sholeh “Robbii hablii minash sholihiin”. Perilaku kedermawanan dan pengorbanan Nabi Ibrahim tak diragukan lagi. Beliau pernah berkorban untuk memberi makan seluruh makhluk Allah baik yang di daratan atau di lautan. Sehingga tak heran bila “buah” dari semua itu terbentuklah jiwa Ismail as. yang menunjukkan kepatuhan dan semangat pengorbanan yang tinggi.
2. Jiwa dan karakter rela berkorban tidak bisa dipelajari sebagaimana sebuah disiplin ilmu. Bagaimana Ismail yang saat itu masih kecil bisa bersekolah dan mempelajarinya serta mempraktikkannya ? Jawabnya tak ada satu sekolah atau profesor pun yang mampu mencetak pribadi rela berkorban seperti itu. Semuanya berpulang pada nurani yang bersih yang senantiasa mendapat “nur” Illahi sehingga dalam perjalanannya selalu peka terhadap kondisi lingkungan sekitar.
Pada akhirnya penulis berharap pemimpin-pemimpin kita ke depan selalu mendapat bimbingan Illahi sehingga senantiasa mempunyai jiwa dan semangat pengorbanan yang tinggi.
Bentuk pengorbanan apa yang relevan untuk saat-saat sekarang ini ? Indonesia yang mengalami kesulitan di berbagai dimensi kehidupan sangat membutuhkan pemimpin yang mempunyai jiwa-jiwa pengorbanan. Mendahulukan dan mengedepankan suara rakyat serta kepentingan-kepentingan yang berpihak pada rakyat dari pada menuruti segelintir orang yang dianggapnya memberi kepuasaan materi sesaat.
Kita mendambakan pengorbanan para pemimpin dan bukan melihat rakyat yang menjadi korban. Mengapa harus para pedagang kaki lima yang menjadi korban para petinggi daerah dengan dalih penataan kota ? mengapa harus para nasabah yang dengan telaten mengumpulkan uang tabungan yang menjadi korban para pemilik modal besar. Kapan kita akan melihat para pejabat yang rela menahan lapar terlebih dahulu sebelum rakyatnya kenyang. Masihkah kira mengharap ada pemimpin yang rela tidak memiliki mobil baru demi membangun program yang langsung menyentuh rakyat.
Dari mana jiwa dan semangat rela berkorban itu kita dapatkan ? Bisakah kita mempelajarinya layaknya sebuah disiplin ilmu ? Ada beberapa hal yang perlu dipahami tentang adanya jiwa dan semangat rela berkorban sebagaimana yang ditunjukkan NabiAllah Isma’il as. :
1. Jiwa dan karakter rela berkorban dibentuk dari sebuah usaha orang tua atau para pendahulu mereka. Bagaimana Nabi Ibrahim tak henti-hentinya berdoa demi mendapatkan anak sholeh “Robbii hablii minash sholihiin”. Perilaku kedermawanan dan pengorbanan Nabi Ibrahim tak diragukan lagi. Beliau pernah berkorban untuk memberi makan seluruh makhluk Allah baik yang di daratan atau di lautan. Sehingga tak heran bila “buah” dari semua itu terbentuklah jiwa Ismail as. yang menunjukkan kepatuhan dan semangat pengorbanan yang tinggi.
2. Jiwa dan karakter rela berkorban tidak bisa dipelajari sebagaimana sebuah disiplin ilmu. Bagaimana Ismail yang saat itu masih kecil bisa bersekolah dan mempelajarinya serta mempraktikkannya ? Jawabnya tak ada satu sekolah atau profesor pun yang mampu mencetak pribadi rela berkorban seperti itu. Semuanya berpulang pada nurani yang bersih yang senantiasa mendapat “nur” Illahi sehingga dalam perjalanannya selalu peka terhadap kondisi lingkungan sekitar.
Pada akhirnya penulis berharap pemimpin-pemimpin kita ke depan selalu mendapat bimbingan Illahi sehingga senantiasa mempunyai jiwa dan semangat pengorbanan yang tinggi.
Rabu, 25 November 2009
IDUL ADHA SEBAGAI MOMENTUM KOREKSI DIRI
Manusia sesuai dengan fitroh penciptaan sebagai "kholifah" di bumi. Sekaligus sebagai penebar kedamaian untuk seluruh umat "Rahmatal lil 'alamin".
Idul adha tahun 2009 mengandung makna yang cukup dalam, ketika bangsa ini tak henti-henti dilanda berbagai musibah. Sudah waktunya semua harus koreksi diri dengan beberapa pertanyaan :
1. Sudahkan kita mau berkorban demi sesama
2. Kalaupun sudah tuluskan pengorbanan kita itu ?
3. Seberapa besar pengorbanan kita jika dibandingkan dengan apa yang sudah kita dapatkan ?
Idul adha tahun 2009 mengandung makna yang cukup dalam, ketika bangsa ini tak henti-henti dilanda berbagai musibah. Sudah waktunya semua harus koreksi diri dengan beberapa pertanyaan :
1. Sudahkan kita mau berkorban demi sesama
2. Kalaupun sudah tuluskan pengorbanan kita itu ?
3. Seberapa besar pengorbanan kita jika dibandingkan dengan apa yang sudah kita dapatkan ?
Pengorbanan Untuk Umat Manusia
Idul Adha adalah momentum yang tepat untuk koreksi diri.
Penciptaan manusia di dunia adalah "Rahmatal lil 'alamiin" sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada Rasul Muhammad SAW.
Manusia juga "disetting" oleh Sang Pencipta sebagai "Kholifah" atau pemimpin di muka bumi. Oleh karenanya apa yang harus kita lakukan sebagai refleksi di hari Raya Idul Qurban ini ?
1. Semangat pengorbanan
2. Semangat kepatuhan
Penciptaan manusia di dunia adalah "Rahmatal lil 'alamiin" sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada Rasul Muhammad SAW.
Manusia juga "disetting" oleh Sang Pencipta sebagai "Kholifah" atau pemimpin di muka bumi. Oleh karenanya apa yang harus kita lakukan sebagai refleksi di hari Raya Idul Qurban ini ?
1. Semangat pengorbanan
2. Semangat kepatuhan
Langganan:
Postingan (Atom)










